KAPAN JADI KAPANG… FENOMENA OKKOTS BUGIS MAKASSAR

Kata “KAPAN” dalam Bahasa Indonesia kita pahami sebagai kata tanya untuk keterangan waktu… seperti dalam kalimat “Kapan kamu akan pergi?” berarti sang penanya pengen tahu waktu kepergian orang yang ditanya…

namun kata “KAPAN” dalam bahasa sehari-sehari di suku BUGIS dan MAKASSAR mempunyai makna yang berbeda, bukan lagi berfungsi sebagai kata tanya keterangan waktu, namun berfungsi sebagai kata keterangan probabilitas (kemungkinan)… untuk lebih jelasnya saya beri contoh sebagai berikut:
- “Sudahmi kapang bermakna “Mungkin udah kelar”
- “Belumpi kapang bermakna “Mungkin belum”
- “Besokpi kapang bermakna “Mungkin baru besok”
- dsb.

sedikit catatan, mungkin ada diantara anda yang heran karena ada tambahan huruf G di akhir kata KAPAN pada contoh di atas. yup, sudah menjadi rahasia umum kalo dalam percakapan sehari-hari di Bugis Makassar, setiap kata yang berakhiran N selalu diucapkan dengan tambahan huruf G, sehingga akan terdengar berdengung (NG), seperti contoh kata pelabuhan menjadi pelabuhang, kata makan menjadi makang, dan kata perempuan menjadi perempuang.. fenomena ini disebut OKKOTS dan bisa kita jumpai pada percakapan sehari-hari di Bugis Makassar. Okkots bukan hanya peristiwa dimana terdapat tambahan huruf G pada kata yang berakhiran huruf N, tetapi Okkots juga terjadi apabila sebuah kata yang berakhiran NG malah hanya diucapkan tidak berdengung atau hanya huruf N nya saja.. mungkin anda yang pernah menyaksikan liputan tentang film “SUSTER APUNG” yang memenangkan Eagle Award di Kick Andy, bisa melihat banyak fenomena Okkots dari bibir seorang Suster Rabiah….

Yang menarik adalah, fenomena Okkots bagi sebagian orang di Bugis Makassar adalah hal yang agak malu-maluin, khususnya di lingkungan kampus. ini saya alami sendiri lo, saya punya sahabat yang bernama Kasim, yang sangat peka terhadap kata-kata Okkots, setiap telinganya menangkap ucapan dari lawan bicaranya yang mengandung unsur Okkots, secara otomatis mulutnya akan mengeluarkan bunyi priiitt… seakan-akan kita ini pemain bola yang diberi kartu merah olehnya. tidak tanggung-tanggung, dosen yang sedang ngomong di depan kelas pun tidak lepas dari priiit-nya Kasim. Perilaku Kasim ini terbukti efektif mengurangi Okkots, setidaknya di lingkungan jurusan Hubungan Internasional UNHAS. Temen-temen yang rada jaim tentunya bakal lebih hati-hati menyeleksi pronounce yang keluar dari mulut mereka ketimbang harus menanggung malu dicap Ndeso karena Okkotsnya dipriit oleh Kasim.

Photobucket - Video and Image Hosting
Genk INTELLIGENT 01 yang selalu okkots
Kiri-Kanan : Agiel, Adhie, Kasim, Jack, Awi, Accul

Sudah lebih dari 8 bulan saya menetap di Jakarta, alhamdulillah sudah bisa beradaptasi dengan logat Jakarta, bahkan sedikit-sedikit mencoba memahami bahasa Jawa dan Sunda yang sering dipakai di sini. Walaupun demikian, kebiasaan Okkots tidak bisa lepas dari keseharian saya, bahkan di forum-forum yang sifatnya formal. setidaknya di sini saya tidak perlu khawatir kena Priitnya Kasim, dan orang-orang di sekitar saya di sini tidak ada yang pernah mempermasalahkan Okkots saya sebagai suatu hal yang serius. Lagipula Okkots bukan hal yang memalukan bagi saya, sebaliknya itu lebih saya anggap membanggakan bagi saya, karena bisa menjadi identitas bahwa saya ini putra daerah Bugis Makassar. Salut deh buat Bapak Andi Alfian Mallarangeng, yang walau udah jadi jubir kepresidenan dan telah lama tinggal di Jakarta, walaupun tidak pernah terdengar Okkots, namun aksen Bugisnya masih medhok banget (nonton aja Empat Mata, di Trans7 yang ditayangkan hari Jumat malam, 12 Januari kemaren)

tambahan oleh Deen via milis (dalam logat Bugis Makassar) :
kykny bukan p’jubir presiden ji yg masih okkots, p’wapres ta juga, acap kali ki bicara pasti ada okkotsnya, menurutku okkots tdk menunjukkan ke-”ndeso”-an seorang mks/bugis.. karena justru karena okkots, org2 bisa cepat kenal dialek mks/bugis, itumi salah satu id ta’…. se’ malah bangga dgn fenomena ini.. emg sih klo didengar rada2 menggelikan, tp di situmi letak khasnya.. .. lagian jg nd smua org bisa okkots toh selaen org2 kita ji (klo itu nassa mi’ di’.. hehehe)

Wallahu A’lam

Catatan tambahan…
1. Tulisan ini saya buat, terinspirasi dari lagu BUGIS berjudul “genne’ni kapang” yang menemaniku tadi subuh mengerjakan laporan tahunan :) … Genne’ni kapang berarti “Mungkin sudah Cukup…”
2. Fenomena Okkots hanya terjadi secara lisan, jarang banget terjadi pada tulisan… kebangetan deh kalo tulisan juga ampe Okkots..
3. Bentuk Okkots yang lain yaitu mengganti akhiran huruf mati dengan huruf mati lainnya. seperti kata mangkok menjadi mangkot, atau bengkok menjadi bengkot :D
4. Saya sendiri juga ga tau asal muasal istilah Okkots itu dari mana…?
5. bagi sebagian orang, tulisan di atas membingungkan..?? peduli amat… capppee deh..!!

7 Responses to “KAPAN JADI KAPANG… FENOMENA OKKOTS BUGIS MAKASSAR”

  1. angin-berbisik Says:

    asyik pertamaaaa

    jadi inget teka teki jadul nan jayus…ikan apa yg bisa nyanyi?

    ikang fauzi….

    hehehe

    dek, biar ndeso yg penting kece…:))

  2. afin yuliani Says:

    hehhehehe…awi lutuna, piye to nak
    ogah kalo afin jadi afing

  3. genne’ni agana? :P

  4. Anonymous Says:

    Hmmm….kaYak’y sAmPe sekaRan itU tEmang ta’ yan nama’y Kasim masiH teRdengaR “Prittt”y.!
    c0c0k mi kita’ biLan kLo ada kasim, Hati2 ki bicaRa.! kLo nda mau maLu…!!

  5. eits..ada poto na pade’..kmrn perasaan lom ada deh..

  6. Hahaha, saya kira Kasim yang sering okkots deh. Tapi ada temanku di kampus biar tulis sms okkots juga. Wajah cantik tp mati di percakapan. Wkekekekeke

  7. Mantap mentong tau ugi..^_^

Leave a Reply