Foto-foto selama di Bonn dan di Frankfurt bisa dilihat di :
- NUMPANG NARSIS DI JERMAN
- PEMANDANGAN DI BONN
- MOMEN DI FRANKFURT
- MOMEN DALAM SEA-EU-NET MEETING
Enjoy it..!!
Foto-foto selama di Bonn dan di Frankfurt bisa dilihat di :
- NUMPANG NARSIS DI JERMAN
- PEMANDANGAN DI BONN
- MOMEN DI FRANKFURT
- MOMEN DALAM SEA-EU-NET MEETING
Enjoy it..!!
Alhamdulillah, pukul 6 pagi lewat dikit, pesawat Lufthansa yang saya tumpangi tiba di Frankfurt. Perjalanan terasa cukup melelahkan, baru kali ini merasakan naik pesawat 14 jam non stop. Lumayan bete, karena di Lufthansa ga ada tivi untuk masing-masing penumpang, coba tau gini mending naik Singapore Airlines, yang acara tivinya asik-asik.
Di bandara Frankfurt sudah ditungguin Konsul Ekonomi KJRI Frankfurt, Bapak Bambang Priya Hutama. Cuaca dingin banget, maklum lagi winter, suhu cuman 7 derajat celcius, jaket tebalku ada di koper besar, males ngambilnya, sementara jaketku yang kecil ketinggalan di taksi waktu menuju bandara. apes…!!!
Saya, Bu Selly dan Pak Donald Tambunan kemudian diantar ke Bonn dengan kendaraan KJRI Frankfurt. Selama perjalanan, saya ga bisa menikmati pemandangan, walau udah pukul 8 pagi, tapi masih gelap seperti jam 5 subuh gitu. Driver KJRI yang nganter kita ke Bonn katanya udah tinggal di Jerman sejak tahun 1983. walaupun udah tidak muda lagi, tuh bapak kuat ngebut juga, Frankfurt-Bonn yang jaraknya 160 KM lebih hanya ditempuh dalam waktu kurang lebih satu jam. itupun karena cuaca hujan. coba kalo ga hujan mungkin bisa lebih cepat lagi. karena saya duduk di samping tuh driver, saya sempet ngeliat speedometernya udah mentok di 180 KM per jam. tapi biarpun ngebut, tuh mobil VW minivan masih stabil larinya. mungkin karena kondisi jalan raya di Jerman yang mulus lus lussss….
Tiba di hotel Bristol, saya pun langsung mandi dan sholat subuh. habis iu ngintip siaran TV yang diputar di kamar hotel. rata-rata siarannya berbahasa Jerman. Tapi ada juga beberapa siaran yang berbahasa Inggris seperti CNN dan Aljazeera. Parahnya, ada satu channel Pay TV yang muter film porno 24 jam non stop… daripada tergoda, saya pun request ke resepsionis agar siaran itu dideaktivasi. hehehehe, jaga hati, istri lagi jauh…!!!
Hotel Bristol yang katanya bintang empat, ternyata tidak menyediakan air mineral gratis buat penhuni kamarnya, so harus di charge di minibar, untuk seperempat liter air mineral kudu membayar 3 euro atau sekitar 45 ribu rupiah. Gila kan? daripada tekor gara-gara air putih doang, saya pun menyusuri jalan di sekitar hotel tuk nyari toko yang jualan air mineral. karena keasyikan liat pemandangan kota yang indah, jadi lupa ama hausnya, saya sampai jalan beberapa kilometer ga terasa. banyak objek foto yang sangat menarik, sayangnya ga ada yang nemenin jalan jadi ga bisa narsis-narsisan. padahal pengen banget foto di bawah patungnya Bethooven yang jaraknya cuman 500 meter dari hotel.
Karena bingung nyari restoran Muslim, akhirnya saya memutuskan tuk lunch di McD, makan chicken burger tuk ngeganjal perut sambil nunggu dinner yang bakal hosted oleh PTDLR. tak lupa nyetok air mineral, sebotolnya 1,5 euro atau sekitar 20 ribu rupiah. deket McD, ternyata ada warnet juga, sejamnya 1 euro, yah lumayanlah buat ngeposting daripada harus di hotel membayar 40 euro untuk sejamnya.
Udah dulu ah ceritanya, pengen balik ke hotel, tidur… masih jetlag… nih badamasih terasa oleng-oleng gitu deh… foto2nya nanti deh di Jakarta baru diaplod semuaya.
Visa udah dapet tadi siang, tiket udah diisued, uang saku udah dikonversi ke Euro…
Akhirnya, Bonn… I’m Coming…!!!!
*) belakangan jarang posting karena sibuk mengabdi pada negara… fiuhh, i’m not a real blogger anymore
Visa udah dapet tadi siang, tiket udah diisued, uang saku udah dikonversi ke Euro…
Akhirnya, Bonn… I’m Coming…!!!!
*) belakangan jarang posting karena sibuk mengabdi pada negara… fiuhh, i’m not a real blogger anymore
Oleh : Muhamad Nuh
Sumber : Dakwatuna.com
“Perbanyaklah mengingat sesuatu yang melenyapkan semua kelezatan, yaitu kematian!” (HR. Tirmidzi)
Berbahagialah hamba-hamba Allah yang senantiasa bercermin dari kematian. Tak ubahnya seperti guru yang baik, kematian memberikan banyak pelajaran, membingkai makna hidup, bahkan mengawasi alur kehidupan agar tak lari menyimpang.
Nilai-nilai pelajaran yang ingin diungkapkan guru kematian begitu banyak, menarik, bahkan menenteramkan. Di antaranya adalah apa yang mungkin sering kita rasakan dan lakukan.
Kematian mengingatkan bahwa waktu sangat berharga
Tak ada sesuatu pun buat seorang mukmin yang mampu mengingatkan betapa berharganya nilai waktu selain kematian. Tak seorang pun tahu berapa lama lagi jatah waktu pentasnya di dunia ini akan berakhir. Sebagaimana tak seorang pun tahu di mana kematian akan menjemputnya.
Ketika seorang manusia melalaikan nilai waktu pada hakekatnya ia sedang menggiring dirinya kepada jurang kebinasaan. Karena tak ada satu detik pun waktu terlewat melainkan ajal kian mendekat. Allah swt mengingatkan itu dalam surah Al-Anbiya ayat 1, “Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).”
Ketika jatah waktu terhamburkan sia-sia, dan ajal sudah di depan mata. Tiba-tiba, lisan tergerak untuk mengatakan, “Ya Allah, mundurkan ajalku sedetik saja. Akan kugunakan itu untuk bertaubat dan mengejar ketinggalan.” Tapi sayang, permohonan tinggallah permohonan. Dan, kematian akan tetap datang tanpa ada perundingan.
Allah swt berfirman dalam surah Ibrahim ayat 44, “Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang zalim: ‘Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul….”
Kematian mengingatkan bahwa kita bukan siapa-siapa
Kalau kehidupan dunia bisa diumpamakan dengan pentas sandiwara, maka kematian adalah akhir segala peran. Apa pun dan siapa pun peran yang telah dimainkan, ketika sutradara mengatakan ‘habis’, usai sudah permainan. Semua kembali kepada peran yang sebenarnya.
Lalu, masih kurang patutkah kita dikatakan orang gila ketika bersikeras akan tetap selamanya menjadi tokoh yang kita perankan. Hingga kapan pun. Padahal, sandiwara sudah berakhir.
Sebagus-bagusnya peran yang kita mainkan, tak akan pernah melekat selamanya. Silakan kita bangga ketika dapat peran sebagai orang kaya. Silakan kita menangis ketika berperan sebagai orang miskin yang menderita. Tapi, bangga dan menangis itu bukan untuk selamanya. Semuanya akan berakhir. Dan, peran-peran itu akan dikembalikan kepada sang sutradara untuk dimasukkan kedalam laci-laci peran.
Teramat naif kalau ada manusia yang berbangga dan yakin bahwa dia akan menjadi orang yang kaya dan berkuasa selamanya. Pun begitu, teramat naif kalau ada manusia yang merasa akan terus menderita selamanya. Semua berawal, dan juga akan berakhir. Dan akhir itu semua adalah kematian.
Kematian mengingatkan bahwa kita tak memiliki apa-apa
Fikih Islam menggariskan kita bahwa tak ada satu benda pun yang boleh ikut masuk ke liang lahat kecuali kain kafan. Siapa pun dia. Kaya atau miskin. Penguasa atau rakyat jelata Semuanya akan masuk lubang kubur bersama bungkusan kain kafan. Cuma kain kafan itu.
Itu pun masih bagus. Karena, kita terlahir dengan tidak membawa apa-apa. Cuma tubuh kecil yang telanjang.
Lalu, masih layakkah kita mengatasnamakan kesuksesan diri ketika kita meraih keberhasilan. Masih patutkah kita membangga-banggakan harta dengan sebutan kepemilikan. Kita datang dengan tidak membawa apa-apa dan pergi pun bersama sesuatu yang tak berharga.
Ternyata, semua hanya peran. Dan pemilik sebenarnya hanya Allah. Ketika peran usai, kepemilikan pun kembali kepada Allah. Lalu, dengan keadaan seperti itu, masihkah kita menyangkal bahwa kita bukan apa-apa. Dan, bukan siapa-siapa. Kecuali, hanya hamba Allah. Setelah itu, kehidupan pun berlalu melupakan peran yang pernah kita mainkan.
Kematian mengingatkan bahwa hidup sementara
Kejayaan dan kesuksesan kadang menghanyutkan anak manusia kepada sebuah khayalan bahwa ia akan hidup selamanya. Hingga kapan pun. Seolah ia ingin menyatakan kepada dunia bahwa tak satu pun yang mampu memisahkan antara dirinya dengan kenikmatan saat ini.
Ketika sapaan kematian mulai datang berupa rambut yang beruban, tenaga yang kian berkurang, wajah yang makin keriput, barulah ia tersadar. Bahwa, segalanya akan berpisah. Dan pemisah kenikmatan itu bernama kematian. Hidup tak jauh dari siklus: awal, berkembang, dan kemudian berakhir.
Kematian mengingatkan bahwa hidup begitu berharga
Seorang hamba Allah yang mengingat kematian akan senantiasa tersadar bahwa hidup teramat berharga. Hidup tak ubahnya seperti ladang pinjaman. Seorang petani yang cerdas akan memanfaatkan ladang itu dengan menanam tumbuhan yang berharga. Dengan sungguh-sungguh. Petani itu khawatir, ia tidak mendapat apa-apa ketika ladang harus dikembalikan.
Mungkin, inilah maksud ungkapan Imam Ghazali ketika menafsirkan surah Al-Qashash ayat 77, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) dunia…” dengan menyebut, “Ad-Dun-ya mazra’atul akhirah.” (Dunia adalah ladang buat akhirat)
Orang yang mencintai sesuatu takkan melewatkan sedetik pun waktunya untuk mengingat sesuatu itu. Termasuk, ketika kematian menjadi sesuatu yang paling diingat. Dengan memaknai kematian, berarti kita sedang menghargai arti kehidupan.