Archive for April, 2008

SALMONELLA TYPHI MENYERANGKU

Posted in Uncategorized on 17 April 2008 by munawir

Sudah hampir tiga minggu saya tidak masuk kantor, gara-gara bakteri jahat Salmonella Typhi penyebab typhoid fever (tipus) menyerangku. Saya bahkan harus dirawat di rumah sakit.

Ceritanya berawal dari demam yang saya rasakan sejak Jumat malam, 28 Maret 2008, namun anehnya deman itu reda di pagi hari, namun malam berikutnya demam lagi, kemudian reda lagi, dan begitu seterusnya sampai hari Senin, 31 Maret 2008, di kantor saya bawaannya lemes, badan pegalnya minta ampun, dan nafsu makan ga ada sama sekali, beberapa teman menyarankan saya periksa ke dokter. Ba’da zuhur, dengan naik motor saya pun menuju ke Rumah Sakit Agung Manggarai yang jadi langganan saya karena dekat dari rumah. Setelah darah saya diperiksa di laboratorium, Dr. Rosita yang bertugas jaga di UGD hari itu ngasih tau kalo saya positif terserang tipus.

Ibu Dokter pun menyarankan agar saya dirawat inap saja biar kondisi saya bisa selalu dikontrol. Saya langsung setuju karena di rumah juga ga ada orang yang bisa jagain saya, apalagi saya harus istirahat total dan pola makan harus dijaga. Saya juga ga tega meminta Thia datang dari Makassar, karena Si Kecil juga pasti butuh perhatian yang lebih besar daripada saya. Akhirnya saya pun dirawat tanpa ada yang jaga, untungnya suster-suster yang cantik lagi baik hati selalu standby . Sahabat sekaligus tetangga saya, AZIZ, malamnya langsung datang jengukin sekalian bawain baju ganti, karena emang siangnya saya ke RS ga ada niat sama sekali untuk rawat inap, jadi ga bawa persiapan apa-apa.


tetep narsis… :P

Selama di RS, saya berada di bawah pengawasan Prof. Heru Sundaru, Dokter ahli penyakit dalam yang telah merawat saya di rumah sakit ini sejak terserang DBD tahun lalu. tiap hari beliau datang mengontrol kondisi saya. Karena kurang betah di RS sendirian, sejak hari kedua saya meminta diberi pengantar untuk pindah ke RS di Makassar, setidaknya kalo dirawat di Makassar, ada yang jagain gitu. Meskipun kondisi saya stabil (suhu badan normal dan tidak demam lagi), namun beliau masih mengharuskan saya dirawat inap dulu setidaknya sampai hari Kamis, nunggu suntikan antibiotik ciprofloxacin-nya dihabiskan dulu.


Menu diet lunak di rumah sakit

Akhir Juli tahun lalu, sewaktu saya dirawat inap di RS ini karena DBD, setidaknya ada Thia yang jagain, nyuapin kalo waktunya makan, pijetin kalo badan pegal, atau sekedar nemenin ngobrol. tapi kali ini bener-bener ngebetein, makan suap sendiri, ga ada yang nemenin ngobrol, mo membaca ga ada buku yang bisa dibaca, untuk mengusir sepi paling bisanya cuman maen game di hape, nonton tivi, atau nelpon/sms. Untungnya banyak yang jengukin mulai dari temen-temen blogger (Rosa n Agung, Reza, Nawir Gani, Soeltra, Chika), temen kantor (Nungki, Yeni, Rini, Mba Aas), Keluarga di Jakarta (Kak Jumain, Kak Eda, Kak Amo, Kak Amin, Kak Vera, Kak Hafip, dan Amma), jadi betenya bisa kurang dikit.

Hari Kamis siang, 3 April 2008, Prof. Heru akhirnya membolehkan saya pulang namun tetap mewanti-wanti untuk beristirahat total. saya pun kembali ke rumah tentu saja dengan naek motor, hehehehe, tukang parkirnya ampe b liat nih motor parkir 4 hari 4 malam, mungkin ga percaya kalo ada pasien rawat inap yang datang dan pulang naek motor, sendirian pula.

Sampe di rumah saya langsung packing, sore itu saya memang niat pulang ke Makassar, setidaknya proses pemulihan akan lebih efektif kalo ada yang rawat. apalagi saya masih butuh beberapa perlakuan khusus, seperti diet lunak. saya ke stasiun Gambir diantar motor oleh Bang Muning, tetangga saya, dan lanjut ke Bandara dengan Bus DAMRI. tiba di Makassar sekitar pukul 9 malam, dijemput Lia dan Kak Basar dan langsung diantar ke rumah Thia di Tello .

Seminggu kemudian, Kamis Malam, 10 April 2008, saya cek up lagi ke klinik Dr. Andi Fachruddin, Dokter ahli penyakit dalam di Makassar. ternyata beliau kenal dengan Prof. Heru, setelah darah saya diperiksa di laboratorium beliau, alhamdulillah tipusnya sudah negatif, tapi beliau masih mengharuskan saya untuk istirahat sampe tanggal 19 April 2008, artinya saya baru bisa masuk kantor insya Allah hari Senin, 21 April 2008.

Sepertinya saya terserang tipus karena belakangan ini pola hidup memang kurang teratur, olahraga jarang banget, makan sering telat, jajan sembarangan, terlalu kecapekan, dan stress karena kerjaan yang seabrek-abrek. Saya sudah janji sama diri sendiri, mulai minggu depan setelah tiba di Jakarta, pola hidup sehat akan saya terapkan lagi plus mengkonsumsi Habbatussauda’… hehehehe….

Mohon Maaf bila email, private message dan comment anda belum sempat terbalas, insya Allah saya akan online lagi mulai hari Senin, 21 April 2008.

TA’LIFUL QULUB

Posted in Uncategorized on 2 April 2008 by munawir

Oleh : Abu Zaky Al-Kalimantany
Sumber : al-ikhwan

Ruh-ruh itu adalah tentara-tentara yang selalu siap siaga, yang telah saling mengenal maka ia (bertemu dan) menyatu, sedang yang tidak maka akan saling berselisih (dan saling mengingkari)”. (HR. Muslim)

Inilah karakter ruh dan jiwa manusia, ia adalah tentara-tentara yang selalu siap siaga, kesatuaannya adalah kunci kekuatan, sedang perselisihannya adalah sumber bencana dan kelemahan. Jiwa adalah tentara Allah yang sangat setia, ia hanya akan dapat diikat dengan kemuliaan Yang Menciptakanya,. Allah berfirman yang artinya:

“Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelajakan semua (kekayaan) yang berada dibumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. 8:63)

Dan tiada satupun ikatan yang paling kokoh untuk mempertemukannya selain ikatan akidah dan keimanan. Imam Syahid Hasan Al Banna berkata:“Yang saya maksud dengan ukhuwah adalah terikatnya hati dan ruhani dengan ikatan aqidah. Aqidah adalah sekokoh-kokoh ikatan dan semulia-mulianya. Ukhuwah adalah saudaranya keimanan, sedangkan perpecahan adalah saudara kembarnya kekufuran”. (Risalah Ta’lim, 193)

Sebab itu, hanya dengan kasih mengasihi karena Allah hati akan bertemu, hanya dengan membangun jalan ketaatan hati akan menyatu, hanya dengan meniti di jalan dakwah ia akan berpadu dan hanya dengan berjanji menegakkan kalimat Allah dalam panji-panji jihad fi sabilillah ia akan saling erat bersatu. Maka sirami taman persaudaraan ini dengan sumber mata air kehidupan sebagai berikut:

1. Sirami dengan mata Air Cinta dan Kasih sayang

Kasih sayang adalah fitrah dakhil dalam jiwa setiap manusia, siapapun memilikinya sungguh memiliki segenap kebaikan dan siapapun yang kehilangannya sungguh ditimpa kerugian. Ia menghiasi yang mengenakan, dan ia menistakan yang menanggalkan. Demikianlah pesan-pesan manusia yang agung akhlaqnya menegaskan. Taman persaudaraan ini hanya akan subur oleh ketulusan cinta, bukan sikap basa basi dan kemunafikan. Taman ini hanya akan hidup oleh kejujuran dan bukan sikap selalu membenarkan. Ia akan tumbuh berkembang oleh suasana nasehat menasehati dan bukan sikap tidak peduli, ia akan bersemi oleh sikap saling menghargai bukan sikap saling menjatuhkan, ia hanya akan mekar bunga-bunga tamannya oleh budaya menutup aib diri dan bukan saling menelanjangi. Hanya ketulusan cinta yang sanggup mengalirkan mata air kehidupan ini, maka saringlah mata airnya agar tidak bercampur dengan iri dan dengki, tidak keruh oleh hawa nafsu, egoisme dan emosi, suburkan nasihatnya dengan bahasa empati dan tumbuhkan penghargaannya dengan kejujuran dan keikhlasan diri. Maka niscaya ia akan menyejukkan pandangan mata yang menanam dan menjengkelkan hati orang-orang kafir (QS.48: 29).

2. Sinari dengan cahaya dan petunjuk jalan

Bunga-bunga tamannya hanya akan mekar merekah oleh sinar mentari petunjuk-Nya dan akan layu karena tertutup oleh cahaya-Nya. Maka bukalah pintu hatimu agar tidak tertutup oleh sifat kesombongan, rasa kagum diri dan penyakit merasa cukup. Sebab ini adalah penyakit umat-umat yang telah Allah binasakan. Dekatkan hatimu dengan sumber segala cahaya (Alquran) niscaya ia akan menyadarkan hati yang terlena, mengajarkan hati yang bodoh, menyembuhkan hati yang sedang sakit dan mengalirkan energi hati yang sedang letih dan kelelahan. Hanya dengan cahaya, kegelapan akan tersibak dan kepekatan akan memudar hingga tanpak jelas kebenaran dari kesalahan, keikhlasan dari nafsu, nasehat dari menelanjangi, memahamkan dari mendikte, objektivitas dari subjektivitas, ilmu dari kebodohan dan petunjuk dari kesesatan. Sekali lagi hanya dengan sinar cahaya-Nya, jendela hati ini akan terbuka. “Maka apakah mereka tidak merenungkan Al Quran ataukah hati mereka telah terkunci”. (QS. 47:24)

3. Bersihkan dengan sikap lapang dada

Minimal cinta kasih adalah kelapangan dada dan maksimalnya adalah itsar ( mementingkan orang lain dari diri sendiri) demikian tegas Hasan Al Banna. Kelapangan dada adalah modal kita dalam menyuburkan taman ini, sebab kita akan berhadapan dengan beragam tipe dan karakter orang, dan “siapapun yang mencari saudara tanpa salah dan cela maka ia tidak akan menemukan saudara” inilah pengalaman hidup para ulama kita yang terungkap dalam bahasa kata untuk menjadi pedoman dalam kehidupan. Kelapang dada akan melahirkan sikap selalu memahami dan bukan minta dipahami, selalu mendengar dan bukan minta didengar, selalu memperhatikan dan bukan minta perhatian, dan belumlah kita memiliki sikap kelapangan dada yang benar bila kita masih selalu memposisikan orang lain seperti posisi kita, meraba perasaan orang lain dengan radar perasaan kita, menyelami logika orang lain dengan logika kita, maka kelapangan dada menuntut kita untuk lebih banyak mendengar dari berbicara, dan lebih banyak berbuat dari sekedar berkata-kata. “Tidak sempurna keimanan seorang mukmin hingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya”. ( HR. Bukhari Muslim)

4. Hidupkan dengan Ma’rifat

Hidupkan bunga-bunga di taman ini dengan berma’rifat kepada Allah dengan sebenar-benar ma’rifat, ma’rifat bukanlah sekedar mengenal atau mengetahui secara teori, namun ia adalah pemahaman yang telah mengakar dalam hati karena terasah oleh banyaknya renungan dan tadabbur, tajam oleh banyaknya dzikir dan fikir, sibuk oleh aib dan kelemahan diri hingga tak ada sedikitpun waktu tersisa untuk menanggapi ucapan orang-orang yang jahil terlebih menguliti kesalahan dan aib saudaranya sendiri, tak ada satupun masa untuk menyebarkan informasi dan berita yang tidak akan menambah amal atau menyelesaikan masalah terlebih menfitnah atau menggosip orang. Hanya hati-hati yang disibukkan dengan Allah yang tidak akan dilenakan oleh Qiila Wa Qaala (banyak bercerita lagi berbicara) dan inilah ciri kedunguan seorang hamba sebagaimana yang ditegaskan Rasulullah apabila ia lebih banyak berbicara dari berbuat, lebih banyak bercerita dari beramal, lebih banyak berangan-angan dan bermimpi dari beraksi dan berkontribusi. “Diantara ciri kebaikan Keislaman seseorang adalah meninggalkan yang sia-sia”. ( HR. At Tirmidzi).

5. Tajamkan dengan cita-cita Kesyahidan

“Pasukan yang tidak punya tugas, sangat potensial membuat kegaduhan” inilah pengalaman medan para pendahulu kita untuk menjadi sendi-sendi dalam kehidupan berjamaah ini. Kerinduan akan syahid akan lebih banyak menyedot energi kita untuk beramal dari berpangku tangan, lebih berkompetisi dari menyerah diri, menyibukkan untuk banyak memberi dari mengoreksi, untuk banyak berfikir hal-hal yang pokok dari hal-hal yang cabang. “Dan barang siapa yang meminta kesyahidan dengan penuh kejujuran, maka Allah akan menyampaikanya walaun ia meninggal diatas tempat tidurnya”. ( HR. Muslim)

“Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah bersatu berkumpul untuk mencurahkan mahabbah hanya kepadaMu, bertemu untuk taat kepada-Mu, bersatu dalam rangka menyeru (dijalan)-Mu, dan berjanji setia untuk membela syariat-Mu, maka kuatkanlah ikatan pertaliannya, ya Allah, abadikanlah kasih sayangnya, tunjukkanlah jalannya dan penuhilah dengan cahay-Mu yang tidak pernah redup, lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman dan keindahan tawakkal kepada-Mu, hidupkanlah dengan ma’rifat-mu, dan matikanlah dalam keadaan syahid di jalan-mu. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong”.

Amin…