Archive for the Uncategorized Category

SEPEREMPAT ABAD…

Posted in Uncategorized on 10 June 2008 by munawir

Alhamdulillah, sampai juga akhirnya di usia ke-25, beneran 25… bukan 35 sebagaimana yang sering kalian tuduhkan kepada saya…

Di usia seperempat abad ini, saya bersyukur karena banyak yang telah Allah anugerahkan kepada saya. kalau tahun lalu saya masih sendiri, alhamdulillah tahun ini sudah ada istri dan anak yang menjadi pelengkap kebahagiaan hidup ini. kalau tahun lalu saya masih berstatus anak kos, alhamdulillah di usia 25 ini saya sudah bisa punya rumah sendiri (walaupun kecil dan masih dicicil).

Semoga di usia ke-25 ini, saya semakin dekat dengan Allah SWT, menjadi muslim yang sempuuuurrrnnaaaa, menjadi suami dan ayah yang baik, dan menjadi abdi negara yang bermanfaat bagi orang banyak. Amin

*) sudah ga bisa posting yang panjang-panjang lagi… terlalu banyak amanah yang harus ditunaikan…

MUSUH YANG BERENANG DI AIR TENANG

Posted in Uncategorized on 2 June 2008 by munawir

Oleh Muhammad Nuh
Sumber : dakwatuna.com


S
eorang mukmin hidupnya kadang mirip peladang. Tak pernah lelah membuka lahan, menanam benih, merawat, menjaga, dan akhirnya menikmati indahnya tanaman yang mulai berbuah. Tapi, jangan pernah menanggalkan parang. Karena dalam kebun juga ada ular, babi hutan, dan anjing liar.

Keimanan merupakan anugerah Allah yang begitu mahal. Hidup yang keras bisa terlalui dengan tenang, nyaman, dan penuh harapan. Sesulit apa pun kehidupan seorang mukmin, ia tetap punya harapan hari esok yang sangat membahagiakan.

Namun, bukanlah iman yang tanpa ujian. Iman bukan sebuah jaminan kalau seorang anak manusia bisa hidup tanpa gangguan. Bukan seperti tiket busway yang bisa memberi jaminan bebas macet di saat padatnya lalu lintas kota. Justru, kian melekat nilai keimanan pada diri seseorang, semakin banyak cobaan dan gangguan.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sungguh kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sungguh Allah mengetahui orang-orang yang benar dan yang dusta.” (Al-Ankabut: 2-3)

Seorang mukmin mungkin bisa tahan dengan duri-duri jalan hidup. Sabar dan terus istiqamah. Tapi, akan beda jika tusukan tidak lagi sekecil duri. Melainkan, sudah berbentuk belati dan pedang.

Ujian ternyata tidak cuma berhenti pada konflik internal diri. Tidak berhenti pada berkecamuknya perang antara tuntutan naluri insani dengan pagar keimanan. Lebih dari itu. Ada musuh-musuh yang senantiasa mengintai. Siang dan malam. Di saat damai, apalagi perang.

Maha Benar Allah dalam firman-Nya: “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (Al-An’am: 112)

Setidaknya, ada tiga kelompok musuh yang kerap mengganggu keteguhan seorang yang beriman. Pertama, musuh bebuyutan Islam. Dikatakan bebuyutan karena permusuhan ini turun temurun. Terwarisi dari generasi ke generasi. Mereka tidak akan pernah senang hingga orang-orang beriman pindah keyakinan.

Tergolong dalam kelompok ini adalah Yahudi dan Nasrani. Permusuhannya bersifat laten dan abadi. Itulah firman Allah swt. dalam surah Al-Baqarah ayat 120. “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.

Ada dengki abadi yang sulit disembuhkan. Ada semacam gugatan kepada Allah yang dilampiaskan ke umat Islam. Mereka menggugat, kenapa kenabian terakhir jatuh ke orang Arab. Bukan Bani Israil seperti yang selama ini berlangsung. “Sebagian Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.…” (Al-Baqarah: 109)

Segala hal mereka lakukan. Mulai dari yang terlihat damai, hingga langsung berupa peperangan. Para pemikir sesat, dari yang berjenis Salman Rusdi hingga yang shalat dua bahasa, selalu terkait dengan sepak terjang Yahudi dan Nasrani beserta jaringannya. Semua itu punya sasaran tembak khusus. Apalagi kalau bukan menggoyahkan keimanan umat Islam.

Kelompok musuh kedua adalah mereka yang punya kepentingan. Kelompok ini agak lebih unik. Mereka heterogen. Bisa datang dari mana pun. Tidak terang-terangan dan konsisten memusuhi umat Islam. Tidak juga turun temurun seperti permusuhan Yahudi dan Nasrani. Tapi, lebih karena perbedaan kepentingan.

Biasanya, yang masuk dalam kelompok ini adalah para pelaku maksiat: koruptor, pezina, dukun, dan mereka yang tak punya agama. Masuk juga mereka yang mengambil untung dari bisnis maksiat.

Hal itulah yang pernah dialami kaum Nabi Luth. Mereka mengusir dan memusuhi Luth dan pengikutnya bukan karena soal keyakinan. Melainkan, soal kepentingan. “Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan, ‘Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri.” (Al-A’raf: 82)

Jadi, jangan pernah menganggap kalau ingin hidup bersih tidak mengundang musuh. Terlebih jika bersih dalam cakupan besar: masyarakat dan negara. Tentu ini akan mengancam kepentingan kekuatan kotor di lingkungan yang sama. Dan tak ada langkah lain buat mereka kecuali memusuhi.

Andai umat Islam seperti peladang. Tentu, indahnya suasana damai tidak lantas memutus urat kewaspadaan. Itulah mungkin, kenapa para peladang tidak akan menanggalkan parang.

TUTUP TABUNGAN

Posted in Uncategorized on 31 May 2008 by munawir

Setelah beralih ke Bank Syariah Mandiri dan BRI, rekening saya di Bank Bukopin dan Bank Mega akhirnya saya tutup. Tidak cukup sampai di situ, malam ini saya menutup lagi satu rekening tabungan saya, ups… tepatnya sih bukan rekening tabungan… tapi…

Lazimnya disebut celengan, tapi wadahnya bukan berbentuk celeng. saya membelinya sekitar 2 tahun lalu, harganya cuman seribu rupiah, tapi ternyata yang terkumpul jauh lebih besar dari modal membeli celengannya.

Karena sang celengan sudah tidak sanggup lagi menampung uang logam yang masuk, saya pun memutuskan untuk ‘tutup tabungan’ alias membongkar sang celengan, dan setelah diitung-itung jumlah uang logam yang terkumpul selama dua tahun sebanyak 135.775 rupiah, hehehehe… dengan rincian, 3 keping uang logam 1000-an, 109 keping uang logam putih 500-an, 88 keping uang logam kuning 500-an, 96 keping logam 200-an, 128 keping uang logam putih 100-an, 15 keping uang logam kuning 100-an, 15 keping uang logam 50-an, dan sekeping uang logam pecahan 25 rupiah.

Sedikit demi sedikit, lama-lama jadi bukit… uang logam yang (dengan sabar) saya kumpulkan dari kembalian belanjaan di warteg atau di pasar selama 2 tahun, kini bisa berguna tuk nutupin uang makan selama kurang lebih seminggu. Kalau kita istiqomah (konsisten) dan sabar dalam mengerjakan sesuatu, insya Allah hasilnya akan memuaskan. Wassalam

SELALU ADA DEBU DOSA

Posted in Uncategorized on 2 May 2008 by munawir

Oleh Muhammad Nuh
Sumber : Dakwatuna

Dosa tak ubahnya seperti tiupan angin di tanah berdebu. Wajah terasa sejuk sesaat, tapi butiran nodanya mulai melekat. Tanpa terasa, tapi begitu berbekas. Kalau saja tak ada cermin, orang tak pernah mengira kalau ia sudah berubah.

Perjalanan hidup memang penuh debu. Sedikit, tapi terus dan pasti; butiran-butiran debu dosa kian bertumpuk dalam diri. Masalahnya, seberapa peka hati menangkap itu. Karena boleh jadi, mata kepekaan pun telah tersumbat dalam gundukan butiran debu dosa yang mulai menggunung.

Seorang mukmin saleh mungkin tak akan terpikir akan melakukan dosa besar. Karena hatinya sudah tercelup dengan warna Islam yang teramat pekat. Jangankan terpikir, mendengar sebutan salah satu dosa besar saja, tubuhnya langsung merinding. Dan lidah pun berucap, “Na’udzubillah min dzalik!”

Namun, tidak begitu dengan dosa-dosa kecil. Karena sedemikian kecilnya, dosa seperti itu menjadi tidak terasa. Terlebih ketika lingkungan yang redup dengan cahaya Ilahi ikut memberikan andil. Dosa menjadi biasa.

Rasulullah saw. bersabda, “Jauhilah dosa-dosa kecil, karena jika ia terkumpul pada diri seseorang, lambat laun akan menjadi biasa.”

Dalam beberapa kesempatan, Rasulullah saw. mewanti para sahabat agar berhati-hati dengan sebuah kebiasaan. Karena boleh jadi, sesuatu yang dianggap ringan, punya dampak besar buat pembentukan hati.

Dari Anas Ibnu Malik berkata, “Rasulullah saw. menyampaikan sesuatu di hadapan para sahabatnya. Beliau saw. berkata: ‘Telah diperlihatkan kepadaku surga dan neraka, maka aku belum pernah melihat kebaikan dan keburukan seperti pada hari ini. Jika kalian mengetahui apa yang aku ketahui niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.’ Anas berkata, “Tidak pernah datang kepada sahabat Rasulullah suatu hari yang lebih berat kecuali hari itu.” Berkata lagi Anas, “Para sahabat Rasulullah menundukkan kepala-kepala mereka dan terdengar suara tangisan mereka.” (Bukhari & Muslim)

Sekecil apa pun dosa, terlebih ketika menjadi biasa, punya dampak tersendiri dalam hati, pikiran, dan kemudian perilaku seseorang. Repotnya, ketika si pelaku tidak menyadari. Justru orang lain yang lebih dulu menangkap ketidaknormalan itu.

Di antara dampak dosa yang kadang remeh dan tidak terasa adalah sebagai berikut: pertama, melemahnya hati dan tekad. Kelemahan ini ketika tanpa sadar, seseorang tidak lagi bergairah menunaikan ibadah sunah. Semuanya tinggal yang wajib. Nilai-nilai tambah ibadah menjadi hilang begitu saja. Tiba-tiba, ia menjadi enggan beristighfar. Sementara, hasrat untuk melakukan kemaksiatan mulai menguat.

Kedua, seseorang akan terus melakukan perbuatan dosa dan maksiat, sehingga ia akan menganggap remeh dosa tersebut. Padahal, dosa yang dianggap remeh itu adalah besar di sisi Allah ta’ala.

Di antara bentuk itu adalah ucapan-ucapan dusta. Awalnya mungkin hanya sekadar canda agar orang lain bisa tertawa. Tapi, ucapan tanpa makna itu akhirnya menjadi biasa. Padahal di antara ciri seorang mukmin selalu menghindar dari perbuatan laghwi, tanpa makna. Allah swt. berfirman, “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.” (QS. 23: 1-3)

Seorang sahabat Rasul, Ibnu Mas’ud, pernah memberikan perbandingan antara seorang mukmin dan fajir. Terutama, tentang cara mereka menilai sebuah dosa. Beliau r.a. berkata, “Sesungguhnya seorang mukmin ketika melihat dosanya seakan-akan ia berada di pinggir gunung. Ia takut gunung itu akan menimpa dirinya. Dan seorang yang fajir tatkala melihat dosanya, seperti memandang seekor lalat yang hinggap di hidungnya, lalu membiarkannya terbang.” (HR. Bukhari)

Ketiga, dosa dan maksiat akan melenyapkan rasa malu. Padahal, malu merupakan tonggak kehidupan hati, pokok dari segala kebaikan. Jika rasa malu hilang, maka lenyaplah kebaikan. Nabi saw. bersabda, “Malu adalah kebaikan seluruhnya.” (HR. Bukhari Muslim)

Keempat, sulitnya menyerap ilmu keislaman. Ini karena dosa mengeruhkan cahaya hati. Padahal, ilmu keislaman merupakan pertemuan antara cahaya hidayah Allah swt. dengan kejernihan hati.

Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i pernah menuturkan pengalaman pribadinya. Ketika itu, ulama yang biasa disebut Imam Syafi’i ini merasakan adanya penurunan kemampuan menghafal. Ia pun mengadukan hal itu ke seorang gurunya yang bernama Waqi’. Penuturan itu ia tulis dalam bentuk untaian kalimat yang begitu puitis.

Aku mengadukan buruknya hafalanku kepada Waqi’

Beliau memintaku untuk membersihkan diri dari segala dosa dan maksiat

Beliau pun mengajarkanku bahwa ilmu itu cahaya

Dan cahaya Allah tidak akan pernah menembus pada hati yang pendosa

Ada satu dampak lagi yang cukup memprihatinkan. Seseorang yang hatinya berserakan debu dosa enggan bertemu sapa dengan sesama mukmin. Karena magnit cinta dengan sesama ikhwah mulai redup, melemah. Sementara, kecenderungan bergaul dengan lingkungan tanpa nilai justru menguat. Ada pemberontakan terselubung. Berontak untuk bebas nilai.

Perjalanan hidup memang bukan jalan lurus tanpa terpaan debu. Kian cepat kita berjalan, semakin keras butiran debu menerpa. Berhati-hatilah, karena sekecil apa pun debu, ia bisa mengurangi kemampuan melihat. Sehingga tidak lagi jelas, mana nikmat; mana maksiat.

SALMONELLA TYPHI MENYERANGKU

Posted in Uncategorized on 17 April 2008 by munawir

Sudah hampir tiga minggu saya tidak masuk kantor, gara-gara bakteri jahat Salmonella Typhi penyebab typhoid fever (tipus) menyerangku. Saya bahkan harus dirawat di rumah sakit.

Ceritanya berawal dari demam yang saya rasakan sejak Jumat malam, 28 Maret 2008, namun anehnya deman itu reda di pagi hari, namun malam berikutnya demam lagi, kemudian reda lagi, dan begitu seterusnya sampai hari Senin, 31 Maret 2008, di kantor saya bawaannya lemes, badan pegalnya minta ampun, dan nafsu makan ga ada sama sekali, beberapa teman menyarankan saya periksa ke dokter. Ba’da zuhur, dengan naik motor saya pun menuju ke Rumah Sakit Agung Manggarai yang jadi langganan saya karena dekat dari rumah. Setelah darah saya diperiksa di laboratorium, Dr. Rosita yang bertugas jaga di UGD hari itu ngasih tau kalo saya positif terserang tipus.

Ibu Dokter pun menyarankan agar saya dirawat inap saja biar kondisi saya bisa selalu dikontrol. Saya langsung setuju karena di rumah juga ga ada orang yang bisa jagain saya, apalagi saya harus istirahat total dan pola makan harus dijaga. Saya juga ga tega meminta Thia datang dari Makassar, karena Si Kecil juga pasti butuh perhatian yang lebih besar daripada saya. Akhirnya saya pun dirawat tanpa ada yang jaga, untungnya suster-suster yang cantik lagi baik hati selalu standby . Sahabat sekaligus tetangga saya, AZIZ, malamnya langsung datang jengukin sekalian bawain baju ganti, karena emang siangnya saya ke RS ga ada niat sama sekali untuk rawat inap, jadi ga bawa persiapan apa-apa.


tetep narsis… :P

Selama di RS, saya berada di bawah pengawasan Prof. Heru Sundaru, Dokter ahli penyakit dalam yang telah merawat saya di rumah sakit ini sejak terserang DBD tahun lalu. tiap hari beliau datang mengontrol kondisi saya. Karena kurang betah di RS sendirian, sejak hari kedua saya meminta diberi pengantar untuk pindah ke RS di Makassar, setidaknya kalo dirawat di Makassar, ada yang jagain gitu. Meskipun kondisi saya stabil (suhu badan normal dan tidak demam lagi), namun beliau masih mengharuskan saya dirawat inap dulu setidaknya sampai hari Kamis, nunggu suntikan antibiotik ciprofloxacin-nya dihabiskan dulu.


Menu diet lunak di rumah sakit

Akhir Juli tahun lalu, sewaktu saya dirawat inap di RS ini karena DBD, setidaknya ada Thia yang jagain, nyuapin kalo waktunya makan, pijetin kalo badan pegal, atau sekedar nemenin ngobrol. tapi kali ini bener-bener ngebetein, makan suap sendiri, ga ada yang nemenin ngobrol, mo membaca ga ada buku yang bisa dibaca, untuk mengusir sepi paling bisanya cuman maen game di hape, nonton tivi, atau nelpon/sms. Untungnya banyak yang jengukin mulai dari temen-temen blogger (Rosa n Agung, Reza, Nawir Gani, Soeltra, Chika), temen kantor (Nungki, Yeni, Rini, Mba Aas), Keluarga di Jakarta (Kak Jumain, Kak Eda, Kak Amo, Kak Amin, Kak Vera, Kak Hafip, dan Amma), jadi betenya bisa kurang dikit.

Hari Kamis siang, 3 April 2008, Prof. Heru akhirnya membolehkan saya pulang namun tetap mewanti-wanti untuk beristirahat total. saya pun kembali ke rumah tentu saja dengan naek motor, hehehehe, tukang parkirnya ampe b liat nih motor parkir 4 hari 4 malam, mungkin ga percaya kalo ada pasien rawat inap yang datang dan pulang naek motor, sendirian pula.

Sampe di rumah saya langsung packing, sore itu saya memang niat pulang ke Makassar, setidaknya proses pemulihan akan lebih efektif kalo ada yang rawat. apalagi saya masih butuh beberapa perlakuan khusus, seperti diet lunak. saya ke stasiun Gambir diantar motor oleh Bang Muning, tetangga saya, dan lanjut ke Bandara dengan Bus DAMRI. tiba di Makassar sekitar pukul 9 malam, dijemput Lia dan Kak Basar dan langsung diantar ke rumah Thia di Tello .

Seminggu kemudian, Kamis Malam, 10 April 2008, saya cek up lagi ke klinik Dr. Andi Fachruddin, Dokter ahli penyakit dalam di Makassar. ternyata beliau kenal dengan Prof. Heru, setelah darah saya diperiksa di laboratorium beliau, alhamdulillah tipusnya sudah negatif, tapi beliau masih mengharuskan saya untuk istirahat sampe tanggal 19 April 2008, artinya saya baru bisa masuk kantor insya Allah hari Senin, 21 April 2008.

Sepertinya saya terserang tipus karena belakangan ini pola hidup memang kurang teratur, olahraga jarang banget, makan sering telat, jajan sembarangan, terlalu kecapekan, dan stress karena kerjaan yang seabrek-abrek. Saya sudah janji sama diri sendiri, mulai minggu depan setelah tiba di Jakarta, pola hidup sehat akan saya terapkan lagi plus mengkonsumsi Habbatussauda’… hehehehe….

Mohon Maaf bila email, private message dan comment anda belum sempat terbalas, insya Allah saya akan online lagi mulai hari Senin, 21 April 2008.

TA’LIFUL QULUB

Posted in Uncategorized on 2 April 2008 by munawir

Oleh : Abu Zaky Al-Kalimantany
Sumber : al-ikhwan

Ruh-ruh itu adalah tentara-tentara yang selalu siap siaga, yang telah saling mengenal maka ia (bertemu dan) menyatu, sedang yang tidak maka akan saling berselisih (dan saling mengingkari)”. (HR. Muslim)

Inilah karakter ruh dan jiwa manusia, ia adalah tentara-tentara yang selalu siap siaga, kesatuaannya adalah kunci kekuatan, sedang perselisihannya adalah sumber bencana dan kelemahan. Jiwa adalah tentara Allah yang sangat setia, ia hanya akan dapat diikat dengan kemuliaan Yang Menciptakanya,. Allah berfirman yang artinya:

“Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelajakan semua (kekayaan) yang berada dibumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. 8:63)

Dan tiada satupun ikatan yang paling kokoh untuk mempertemukannya selain ikatan akidah dan keimanan. Imam Syahid Hasan Al Banna berkata:“Yang saya maksud dengan ukhuwah adalah terikatnya hati dan ruhani dengan ikatan aqidah. Aqidah adalah sekokoh-kokoh ikatan dan semulia-mulianya. Ukhuwah adalah saudaranya keimanan, sedangkan perpecahan adalah saudara kembarnya kekufuran”. (Risalah Ta’lim, 193)

Sebab itu, hanya dengan kasih mengasihi karena Allah hati akan bertemu, hanya dengan membangun jalan ketaatan hati akan menyatu, hanya dengan meniti di jalan dakwah ia akan berpadu dan hanya dengan berjanji menegakkan kalimat Allah dalam panji-panji jihad fi sabilillah ia akan saling erat bersatu. Maka sirami taman persaudaraan ini dengan sumber mata air kehidupan sebagai berikut:

1. Sirami dengan mata Air Cinta dan Kasih sayang

Kasih sayang adalah fitrah dakhil dalam jiwa setiap manusia, siapapun memilikinya sungguh memiliki segenap kebaikan dan siapapun yang kehilangannya sungguh ditimpa kerugian. Ia menghiasi yang mengenakan, dan ia menistakan yang menanggalkan. Demikianlah pesan-pesan manusia yang agung akhlaqnya menegaskan. Taman persaudaraan ini hanya akan subur oleh ketulusan cinta, bukan sikap basa basi dan kemunafikan. Taman ini hanya akan hidup oleh kejujuran dan bukan sikap selalu membenarkan. Ia akan tumbuh berkembang oleh suasana nasehat menasehati dan bukan sikap tidak peduli, ia akan bersemi oleh sikap saling menghargai bukan sikap saling menjatuhkan, ia hanya akan mekar bunga-bunga tamannya oleh budaya menutup aib diri dan bukan saling menelanjangi. Hanya ketulusan cinta yang sanggup mengalirkan mata air kehidupan ini, maka saringlah mata airnya agar tidak bercampur dengan iri dan dengki, tidak keruh oleh hawa nafsu, egoisme dan emosi, suburkan nasihatnya dengan bahasa empati dan tumbuhkan penghargaannya dengan kejujuran dan keikhlasan diri. Maka niscaya ia akan menyejukkan pandangan mata yang menanam dan menjengkelkan hati orang-orang kafir (QS.48: 29).

2. Sinari dengan cahaya dan petunjuk jalan

Bunga-bunga tamannya hanya akan mekar merekah oleh sinar mentari petunjuk-Nya dan akan layu karena tertutup oleh cahaya-Nya. Maka bukalah pintu hatimu agar tidak tertutup oleh sifat kesombongan, rasa kagum diri dan penyakit merasa cukup. Sebab ini adalah penyakit umat-umat yang telah Allah binasakan. Dekatkan hatimu dengan sumber segala cahaya (Alquran) niscaya ia akan menyadarkan hati yang terlena, mengajarkan hati yang bodoh, menyembuhkan hati yang sedang sakit dan mengalirkan energi hati yang sedang letih dan kelelahan. Hanya dengan cahaya, kegelapan akan tersibak dan kepekatan akan memudar hingga tanpak jelas kebenaran dari kesalahan, keikhlasan dari nafsu, nasehat dari menelanjangi, memahamkan dari mendikte, objektivitas dari subjektivitas, ilmu dari kebodohan dan petunjuk dari kesesatan. Sekali lagi hanya dengan sinar cahaya-Nya, jendela hati ini akan terbuka. “Maka apakah mereka tidak merenungkan Al Quran ataukah hati mereka telah terkunci”. (QS. 47:24)

3. Bersihkan dengan sikap lapang dada

Minimal cinta kasih adalah kelapangan dada dan maksimalnya adalah itsar ( mementingkan orang lain dari diri sendiri) demikian tegas Hasan Al Banna. Kelapangan dada adalah modal kita dalam menyuburkan taman ini, sebab kita akan berhadapan dengan beragam tipe dan karakter orang, dan “siapapun yang mencari saudara tanpa salah dan cela maka ia tidak akan menemukan saudara” inilah pengalaman hidup para ulama kita yang terungkap dalam bahasa kata untuk menjadi pedoman dalam kehidupan. Kelapang dada akan melahirkan sikap selalu memahami dan bukan minta dipahami, selalu mendengar dan bukan minta didengar, selalu memperhatikan dan bukan minta perhatian, dan belumlah kita memiliki sikap kelapangan dada yang benar bila kita masih selalu memposisikan orang lain seperti posisi kita, meraba perasaan orang lain dengan radar perasaan kita, menyelami logika orang lain dengan logika kita, maka kelapangan dada menuntut kita untuk lebih banyak mendengar dari berbicara, dan lebih banyak berbuat dari sekedar berkata-kata. “Tidak sempurna keimanan seorang mukmin hingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya”. ( HR. Bukhari Muslim)

4. Hidupkan dengan Ma’rifat

Hidupkan bunga-bunga di taman ini dengan berma’rifat kepada Allah dengan sebenar-benar ma’rifat, ma’rifat bukanlah sekedar mengenal atau mengetahui secara teori, namun ia adalah pemahaman yang telah mengakar dalam hati karena terasah oleh banyaknya renungan dan tadabbur, tajam oleh banyaknya dzikir dan fikir, sibuk oleh aib dan kelemahan diri hingga tak ada sedikitpun waktu tersisa untuk menanggapi ucapan orang-orang yang jahil terlebih menguliti kesalahan dan aib saudaranya sendiri, tak ada satupun masa untuk menyebarkan informasi dan berita yang tidak akan menambah amal atau menyelesaikan masalah terlebih menfitnah atau menggosip orang. Hanya hati-hati yang disibukkan dengan Allah yang tidak akan dilenakan oleh Qiila Wa Qaala (banyak bercerita lagi berbicara) dan inilah ciri kedunguan seorang hamba sebagaimana yang ditegaskan Rasulullah apabila ia lebih banyak berbicara dari berbuat, lebih banyak bercerita dari beramal, lebih banyak berangan-angan dan bermimpi dari beraksi dan berkontribusi. “Diantara ciri kebaikan Keislaman seseorang adalah meninggalkan yang sia-sia”. ( HR. At Tirmidzi).

5. Tajamkan dengan cita-cita Kesyahidan

“Pasukan yang tidak punya tugas, sangat potensial membuat kegaduhan” inilah pengalaman medan para pendahulu kita untuk menjadi sendi-sendi dalam kehidupan berjamaah ini. Kerinduan akan syahid akan lebih banyak menyedot energi kita untuk beramal dari berpangku tangan, lebih berkompetisi dari menyerah diri, menyibukkan untuk banyak memberi dari mengoreksi, untuk banyak berfikir hal-hal yang pokok dari hal-hal yang cabang. “Dan barang siapa yang meminta kesyahidan dengan penuh kejujuran, maka Allah akan menyampaikanya walaun ia meninggal diatas tempat tidurnya”. ( HR. Muslim)

“Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah bersatu berkumpul untuk mencurahkan mahabbah hanya kepadaMu, bertemu untuk taat kepada-Mu, bersatu dalam rangka menyeru (dijalan)-Mu, dan berjanji setia untuk membela syariat-Mu, maka kuatkanlah ikatan pertaliannya, ya Allah, abadikanlah kasih sayangnya, tunjukkanlah jalannya dan penuhilah dengan cahay-Mu yang tidak pernah redup, lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman dan keindahan tawakkal kepada-Mu, hidupkanlah dengan ma’rifat-mu, dan matikanlah dalam keadaan syahid di jalan-mu. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong”.

Amin…

PUTRA PERTAMAKU PUN LAHIR

Posted in Uncategorized on 11 March 2008 by munawir

Hari Senin minggu lalu, 3 Maret 2008, sekitar pukul 13.30, handphoneku berdering, ternyata ada panggilan masuk dari istriku, sebelum saya menjawab panggilan itu, firasat saya sudah menebak bahwa apa yang akan disampaikan istriku kali ini pasti tentang kehamilannya. Bener saja, dari seberang istri saya bilang kalo dia sudah mengalami pendarahan dan sepertinya waktu melahirkan sudah tidak lama lagi. Ya Allah, terus terang saya belum siap untuk kembali ke Makassar hari itu, sebenarnya saya berharap si kecil lahir setelah tanggal 6 Maret, karena tanggal 5-6 Maret saya harus bantuin Ibu Selly tuk ngadain Joint Workshop tentang Geothermal dengan mitra dari Jerman. Tapi ternyata Allah berkehendak lain, sepertinya hari itu saya harus segera kembali ke Makassar…

Setengah berlari saya ke depan kantor dan menyetop taksi, langsung menuju ke rumah untuk mengambil beberapa pakaian dan perlengkapan penting lainnya trus langsung cabut ke bandara Sukarno Hatta. selama di perjalanan, barulah saya menghubungi bagian ticketing Lion Air dan memesan tiket ke Makassar untuk penerbangan pukul 16.05, alhamdulillah masih ada seat, saya tiba di bandara beberapa saat sebelum boarding. Karena ada perbedaan waktu sejam antara Makassar dan Jakarta, maka saya tiba di Makassar pukul 19.00 lewat dikit. Setelah nyampe rumah, saya dan Kak Bashar langsung meluncur ke RSB Pertiwi di Jalan Sudirman Makassar, istriku sudah ada di ruangan bersalin, saya pun disodorin lembar persetujuan operasi oleh suster di sana, ternyata istriku harus dioperasi cesar, karena posisi bayinya masih sungsang dan air ketubannya sudah mulai habis. Istriku pun masuk ke ruang operasi tepat pukul 12 malam, dan bayinya pun lahir sekitar 15 menit kemudian. Karena proses kelahiran dengan cesar, sepertinya sulit untuk meminta agar bayinya langsung nyusu ke ibunya (Inisiasi Menyusui Dini), karena kondisi istri saya masih lemah dan harus masuk ICU.

Perasaan saya bahagia banget melihat si kecil yang selama ini dinanti kini ada di depan mata, saya pun melantunkan azan di telinga kanannya, dan tak henti-hentinya bertasbih dan bertahmid karena baik Istriku dan si kecil alhamdulillah dalam keadaan selamat. Keesokan harinya, setelah kondisi istriku membaik, barulah diperbolehkan pindah ke kamar perawatan Anggrek IV, begitu pula si kecil. Setelah berembug dengan istri, saya pun sepakat tuk memberi nama pada si kecil yaitu Ahmad Syauqi Arrabbani, artinya kurang lebih gini…

Ahmad itu berarti terpuji, atau orang yang layak mendapatkan pujian, asal katanya adalah hamada, sama dengan asal kata MuhammadAhmad kebetulan juga nama kakek saya dari abba, yang telah meninggal jauh sebelum saya lahir.

Syauqi itu berarti rindu, kehangatan atau cinta, nih nama pilihan istri saya, katanya sih enak didengar, dan maknanya juga bagus…

Sedangkan Arrabbani itu berasal dari kata rabbun, dengan tambahan alif dan nun di belakangnya sebagai bentuk mubalaghah. saya kepikiran tuk memberi nama Arrabbani karena beberapa minggu yang lalu ustaz di tempat saya talaqqi menjelaskan surah Al-Imran ayat 79 yang didalamnya terdapat kata Rabbaniyyun ini… Dalam Lisanul Arab, Ar-Rabbani berarti hamba yang mempunyai pengetahuan tentang Tuhan, Sedangkan Imam al-Qurtubi dalam tafsir al Jami’liahkamil –Quran mengartikan Ar-Rabbani adalah penisbatan kepada ar Rabb, dimana dapat juga dikatakan seorang ulama ahli agama yang mengamalkan ilmunya dijalan Allah. Selain itu Abu Hamid al Ghazali mengatakan arti rabbani adalah orang yang dekat dengan Allah (Sumber : Blogna Mba Aina)


Kembali ke Syauqi nih… Alhamdulillah hari Jumat pagi, dokter sudah membolehkan Syauqi dan ibunya pulang ke rumah, Syauqi juga udah bisa mengkonsumsi ASI walau proses adaptasinya lumayan bikin saya dan istri stress banget karena hari pertama Syauqi udah terbiasa dengan susu formula S26. Namun Alhamdulillah setelah sampai di rumah, Syauqi sudah tidak mimi susu formula lagi. Minum ASI nya juga lumayan kuat, katanya sih kalo anak cowok emang gitu, kalo nangis juga teriaknya minta ampunnnn bikin orang serumah pada bangun, tidur saya ga bisa nyenyak gara-gara Syauqi kalo malam rewel karena haus… capee dehhh…

Sebenarnya aqiqahan senin kemaren tanggal 10, namun karena saya harus kembali ke Jakarta (banyak kerjaan numpuk), ortu juga dua-duanya sedang ke Bali, so diundur insya Allah minggu depan, dibarengin dengan Aqiqah sepupunya Syauqi yang lahir tadi subuh (Selasa, 11 Maret 08). Emang jarak lahirnya ga jauh-jauh banget, tanggal nikah ortunya aja cuman beda sehari…

Ga pernah membayangkan di usia menjelang 25 tahun, saya sudah dikaruniai seorang putra, amanah dari Allah yang akan saya didik dan pelihara dengan nilai-nilai agama agar kelak mampu menjadi insan yang rabbani…

Mau liat video tangisan pertama Syauqi? klik di SINI
Foto-fotonya Syauqi bisa dilihat di SINI

NAK, KAMU KAPAN KELUARNYA?

Posted in Uncategorized on 28 February 2008 by munawir

Hari ini usia kandungan istri saya sudah 38 minggu lewat 3 hari, prediksi awal sih bayinya akan keluar tanggal 10 Maret nanti, trus dokter meprediksi lagi maju ke tanggal 6 Maret, trus setelah USG diprediksi akan lahir akhir bulan Februari

Hmm, sekarang udah akhir Februari nih, tapi belum ada tanda-tanda tuh… mungkin masih betah kali ya di dalam perut umminya… cepetan keluar dong… udah ga sabaran nih pengen ngelantunin azan di telingamu nak….

Photobucket

Pengennya sih besok aja lahirnya, biar ga rewel minta hadiah ulang tahun , secara 29 Februari datangnya 4 tahun sekali…. kalo istriku pengenya si kecil lahir 1 Maret, biar barengan ama hari kelahirannya… kalo ibu Selly (bosku) maunya si kecil lahir di atas tanggal 7 Maret, karena saya harus bantu beliau nyiapin workshop geothermal tanggal 5-6 Maret nanti, jadi ke Makassarnya setelah workshop itu…

Tapi terserah Allah saja deh yang terbaiknya gimana, yang jelas si kecil lahir dengan selamat, begitu juga dengan ibunya… masalahnya sampai hari ini posisinya masih sungsang, kepalanya masih berada di atas… kemungkinan operasi caesar kalo sampe detik terakhir blum muter ke bawah. tapi katanya ada juga sih kasus dimana yang keluar duluan tuh bukan kepalanya… hmmm whatever deh terserah Allah SWT. gimana baiknya…

BERDEKAT-DEKATLAH DENGAN AL-QUR’AN

Posted in Uncategorized on 28 February 2008 by munawir

Oleh : Muhammad Nuh
Sumber : Dakwatuna

Orang yang dalam dadanya tidak ada sedikit pun dari Alquran, ibarat rumah yang bobrok.” (HR. At-Tirmidzi)

Maha Bijaksana Allah swt. yang menciptakan kehidupan dengan segala kelengkapannya. Laut yang luas dengan segala kandungannya. Langit yang biru dengan gemerlap hiasan bintang-bintangnya. Dan kehidupan manusia dengan kelengkapan aturan dan rambu-rambunya.

Berdekat-dekatlah dengan Al-Quran, hati akan memperoleh kesegaran. Hati sebenarnya mirip dengan tanaman. Ia bisa segar, layu, dan kering. Karena itu, hati butuh sesuatu yang bisa menyuburkan: siraman air yang menyejukkan, kehangatan matahari yang menguatkan, dan tanah gembur yang banyak makanan.


Untuk hati, siraman air adalah cahaya Al-Quran, kehangatan matahari adalah nasihat, dan tanah gembur merupakan lingkungan yang baik. Hati yang selalu dekat dengan Al-Quran bagaikan tanaman yang tumbuh di sekitar mata air nan jernih. Ia akan tumbuh subur dan kokoh.

Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah-rumah Allah untuk melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran dan mempelajarinya, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, dilingkupi pada diri mereka rahmat, dilingkari para malaikat, dan Allah pun akan menyebut (memuji) mereka pada makhluk yang ada di dekat-Nya.” (HR. Muslim)

Berdekat-dekatlah dengan Al-Quran, pandangan akan menemukan kejernihan. Secanggih apa pun sebuah gagasan, pemikiran; selama tidak bersandar pada Al-Quran, selama tidak dibimbing Al-Quran, hanya akan berkutat pada persoalan teknis. Bukan sesuatu yang ideal. Hanya akan berkutat pada materi dan materi.

Itulah yang diraih peradaban Barat saat ini. Sekilas kehidupan masyarakatnya seperti makmur sejahtera, padahal nilai-nilai sosial di sana sudah luntur. Idealita hidup menjadi begitu dangkal. Nilai hidup dan kemanusiaan menjadi tidak begitu dihargai.

Begitu pun ketika umat Islam berjarak dengan Al-Quran. Semakin jauh, pola pikir akan terjebak pada persoalan materi. Masalah yang muncul tidak pernah terselesaikan. Karena gagasan tidak mampu menyentuh persoalan inti, cuma berkutat pada yang kulit.

Krisis bangsa ini ada pada sisi moral. Dan itu ada dalam jiwa manusia. Upaya perubahan tidak akan punya arti jika tanpa ada pembenahan pada jiwa manusia. Allah swt. berfirman, “…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehinga mereka mengubah keadaan yang ada pada jiwa mereka sendiri….” (Ar-Ra’du: 11)

Berdekat-dekat dengan Al-Quran akan menyegarkan jiwa. Segala syahwat buruk yang melahirkan emosi jahat bisa terkikis. Pandangan pun akan menjadi jernih. Maha Suci Allah dalam firman-Nya, “Dan Kami turunkan dari Alquran suatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan Alquran itu tidaklah menambah kepada orang-orang zalim selain kerugian.” (Al-Isra’: 82)

Berdekat-dekatlah dengan Al-Quran, langkah akan mendapat bimbingan. Siapa pun kita, tetap tidak bisa keluar dari sifat sebagai manusia. Kadang melangkah dengan semestinya, kadang juga tersasar. Inilah di antara kelemahan manusia yang tidak bisa menentukan dengan kemampuan dirinya: mana jalan yang benar, dan mana yang tidak. Ia butuh bimbingan.

Hati yang segar dan pemikiran yang jernih akan menggiring langkah ke jalan yang lurus. Khusus mereka yang selalu dekat dengan Al-Quran, jalan kehidupan seperti dilengkapi rambu-rambu. Begitu jelas.

Kalaupun ia tersasar karena sifat manusianya, akan ada rasa tidak nyaman. Firasat imannya seperti memberikan sinyal. Bisa dalam bentuk kegelisahan, keraguan, dan sebagainya. Ia tidak lagi butuh teguran apalagi hukuman. Cukup dengan isyarat dari Allah swt., kesadaran pun kembali segar.

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Hadiid: 28)

Berdekat-dekatlah dengan Al-Quran, kita tidak akan pernah sendirian. Keimanan dalam hati seseorang bisa terang, bisa juga redup. Ketika redup itulah, seorang mukmin seperti dalam kesendirian. Ada ketakutan, putus asa, ketidakmampuan, dan sejenisnya. Dunia seperti hutan lebat tanpa seorang pun di sana, kecuali dia seorang. Ia sangat butuh teman.

Seorang mukmin yang membaca Al-Quran, ia seperti sedang berdialog dengan seorang teman sejati. Yang siap menunjukkan yang salah dan yang benar. Ia menuntun sang teman kepada jalan yang baik, penuh kebahagiaan dan keselamatan.

Rasulullah saw. mengatakan, “Siapa yang ingin berdialog dengan Rabbnya, maka hendaklah dia membaca Al-Quran.” (HR. Adailami dan Al-Baihaqi)

Kini semua pilihan terhampar. Petunjuk dan rambu-rambu pun sudah diberikan. Tinggal kita yang harus menentukan: memilih jalan bersama Al-Quran, atau tidak. Maha Benar Allah dalam firman-Nya, “…maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir….” (Al-Kahfi: 29)

KEMATIAN DAN RINDU BERTEMU DENGAN ALLAH

Posted in Uncategorized on 25 February 2008 by munawir

Oleh : Mochamad Bugi
Sumber : Dakwatuna

Ubadah bin Shamid r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Allah berfirman: Apabila hamba-Ku senang untuk bertemu dengan-Ku, Aku juga senang untuk bertemu dengannya. Dan jika dia tidak suka untuk bertemu dengan-Ku, Aku juga tidak suka untuk bertemu dengannya.” (HR. Bukhari, hadits shahih)

Ubadah bin Shamid r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa senang untuk bertemu dengan Allah, maka Allah juga senang untuk bertemu dengannya. Dan barangsiapa tidak senang untuk bertemu dengan Allah, maka Allah juga tidak senang untuk bertemu dengannya.”

Aisyah –salah seorang istri Nabi saw.—bertanya, “Kita membenci kematian.” Nabi saw. bersabda, “Bukan itu yang aku maksud, melainkan orang mukmin ketika dijemput oleh kematian, ia mendapatkan kabar gembira bahwa ia memperoleh ridha dan karamah Allah, maka tidak ada sesuatu yang lebih ia sukai daripada apa yang ada di hadapannya sehingga ia amat senang untuk bertemu dengan Allah. Allah pun senang untuk bertemu dengannya. Adapun orang kafir ketika dijemput oleh kematian, maka ia mendapatkan kabar gembira bahwa ia akan mendapatkan azab dan siksa Allah, maka tidak sesuatu yang paling ia benci daripada apa yang ada di hadapannya sehingga ia tidak senang untuk bertemu dengan Allah. Allah pun tidak senang untuk bertemu dengannya.” (HR. Bukhari, hadits shahih)

Abu Musa al-Asy’ari r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa senang untuk bertemu dengan Allah, maka Allah juga senang untuk bertemu dengannya. Dan barangsiapa tidak senang untuk bertemu dengan Allah, maka Allah juga tidak senang untuk bertemu dengannya.” (HR. Bukhari, hadits shahih)

Aisyah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa senang untuk bertemu dengan Allah, niscaya Allah juga senang untuk bertemu dengannya. Dan barangsiapa tidak senang untuk bertemu dengan Allah, niscaya Allah juga tidak senang untuk bertemu dengannya. Kematian itu datang sebelum (seseorang) bertemu Allah.” (HR. Muslim, hadits shahih)

Aisyah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa senang untuk bertemu dengan Allah, maka Allah juga senang untuk bertemu dengannya. Dan barangsiapa benci untuk bertemu dengan Allah, maka Allah juga benci untuk bertemu dengannya.” Aku bertanya, “Wahai Nabi Allah, apakah –yang dimaksud dengan benci untuk bertemu dengan Allah adalah—membenci kematian? Setiap kita membenci kematian.”

Nabi menjawab, “Bukan seperti itu, melainkan orang mukmin ketika mendapatkan kabar gembira bahwa ia memperoleh rahmat, ridha, dan surga Allah, maka ia senang untuk bertemu dengan Allah. Alah pun senang untuk bertemu dengannya. Adapun orang kafir ketika mendapatkan kabar gembira bahwa ia akan mendapatkan azab dan murka Allah, maka ia benci untuk bertemu dengan Allah. Allah pun benci untuk bertemu dengannya.” (HR. Muslim, hadits shahih)

Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Allah swt. berfirman: Apabila hamba-Ku senang untuk bertemu dengan-Ku, Aku pun senang untuk bertemu dengannya. Dan jika dia tidak suka untuk bertemu dengan-Ku, Aku pun tidak suka untuk bertemu dengannya.” (HR. Imam Malik, hadits shahih)

Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Malaikat Maut diutus untuk mencabut nyawa Nabi Musa a.s. Ketika Malaikat Maut tiba di hadapan Nabi Musa, Nabi Musa langsung memukul mata Malaikat Maut. Kemudian Malaikat Maut kembali menghadap Tuhannya seraya berkata, ‘Engkau mengutusku kepada seorang hamba yang tidak mau mati.’ Allah berkata, ‘Kembalilah dan katakan kepadanya agar ia meletakkan tangannya pada bulu sapi jantan. Maka setiap helai bulu yang ditutupi oleh tangannya berarti satu tahun.’ Musa berkata, ‘Wahai Tuhan, setelah itu?’ Allah menjawab, ‘Kematian.’ Musa berkata, ‘Saat iniah waktu kematian itu.’ Kemudian Musa memohon kepada Allah agar ia dimakamkan di dekat Baitul Maqdis, sejauh lemparan batu.’” Abu Hurairah berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Seandainya aku berada di sana, aku pasti akan memperlihatkan kepada kalian kuburannya yang terletak di samping jalan di kaki bukit berpasir merah.’” (HR. Bukhari, hadits shahih)